STUDI 419 420 430 15 6 Kekeruhan NTU 37

STUDI
KASUS RAWA GAMBUT DI DUSUN PULO GOMBUT DESA SUKA RAME BARU KABUPATEN LABUHAN
BATU UTARA

1.PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

A.
Air Rawa Gambut

            Air
merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Keberadaan air merupakan yang utama
dalam aktifitas kehidupan manusia sehari-hari. Namun di realita masyarakat
masih banyak yang terkendala masalah ketesediaan air bersih, khususnya mereka
yang tinggal di daerah tertentu seperti daerah rawa. Air yang mereka gunakan
dalam kebutuhan sehari hari masih belum layak untuk digunakan jika mengacu pada
baku mutu yang ada.

            Pemanfaatan
air rawa perlu diperhatikan karena tidak semua air dapat digunakan, haruslah
yang memenuhi standar tertentu. Air rawa gambut yang digunakan sebagai air baku
air bersih memiliki kriteria yang kurang layak. Standar mutu acuan air baku
yang digunakan adalah Peraturan Pemerintah RI No.82 tahun 2001 Tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Oleh karena itu
diperlukan pengolahan air gambut untuk dapat layak sesuai baku mutu serta dapat
digunakan dan bermanfaat bagi masyarakat.

 

B. Lahan Rawa Gambut

            Lahan
gambut adalah lahan yang kaya akan zat organik. Zat organik ini berasal dari
pelapukan tanaman. Banyaknya zat organik pada lahan gambut mengakibatkan
lahannya menjadi bersifat asam dan menghambat pertumbuhan tanaman. Terhambatnya
pertumbuhan tanaman tentunya menjadi kendala bagi warga yang hidup di kawasan
lahan gambut untuk bercocok tanam. Oleh karena itu diperlukan pengkondisian
lahan gambut agar dapat lebih meningkat kesuburannya.

2.PEMBAHASAN

A.
Pengolahan Air rawa gambut

            Desa pulo gombut merupakan desa yang terletak di
kabupaten labuhan batu utara, Provinsi Sumatera utara. Menurut penelitain dalam
jurnal Suhendra dkk (2012) daerah dusun tersebut berada di dataran rendah dan berawa
serta masyarakatnya memanfaatkan air gambut tersebut untuk kebutuhan
sehari-hari. Berikut adalah hasil pemeriksaan kualitas fisik air gambut di DusunPuloGombutDesaSukaRameBaruKecamatan
Kuala HuluKabupatenLabuhanBatu Utara Tahun 2012.

Tabel 1 : Kualitas Fisik Air Gambut di Dusun Pulo Gombut Desa Suka Rame Baru Kecamatan Kuala Hulu Kabupaten Labuhan Batu Utara Tahun 2012.

No

Parameter

Satuan

Air Gambut

Baku Mutu
Kelas I

Hulu

Tengah

Hilir

1

Bau

Tidak berbau

Tidak berbau

Tidak berbau

Tidak berbau

2

TDS

Mg/L

35

35

36

1000

3

Suhu

oC

27,9

27,8

27,7

± 3

4

Rasa

Tidak Berasa

Tidak Berasa

Tidak Berasa

Tidak Berasa

5

Warna

Pt.Co

419

420

430

15

6

Kekeruhan

NTU

37

236

38

5

Tabel 2 : Kualitas Kimia Air Gambut di Dusun Pulo Gombut Desa Suka Rame Baru Kecamatan Kuala Hulu Kabupaten Labuhan Batu Utara Tahun 2012.

No

Parameter

Satuan

Air Gambut

Baku mutu
Kelas I

Hulu

Tengah

Hilir

1

Ph

4,6

4,8

4,5

6-9

2

Cd

mg/L

0,00429

0,00476

0,00463

0,01

3

Fe

mg/L

0,93007

0,89662

0,90987

0,3

4

Mn

mg/L

0,17630

0,19221

0,19402

0,1

5

Sulfat

mg/L

17

19

21

400

6

BOD

mg/L

16,24

15,73

16,27

2

Berdasarkan Peraturan
Pemerintah RI No.82 tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air, hasil penelitian kualitas fisik dan kimia di atas
terdapat beberapa parameter yang tidak sesuai baku mutu seperti tingkat
kekeruhan, intensitas warna, pH, Mn, dan BOD. Maka dari itu solusi yang
ditawarkan adalah pengolahan air gambut dengan TP2AS (Tong, Pengaduk,
Pengendap, Aerasi, dan Saringan).

                 Menurut jurnal peneltian
Herlambang., (2005) proses TP2AS ini menggunakan kombinasi prose pengaturan pH,
proses koagulasi-flokulasi dengan menggunakan larutan tawas atau PAC, serta
pembubuhan kalium permanganat dan dilanjutkan dengan proses filtrasi dengan
saringan pasir, kemudian penyaringan dengan filter mangan zeolit (manganese greensand) dan selanjutnya
penyaringan dengan media karbon aktif.

 

Gambar 1. DIAGRAM PROSES PENGOLAHAN AIR GAMBUT
 

 

                

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. DIAGRAM PROSES TP2AS

 

                

 

 

           

           

 

 

 

 

 

 

 

 

Air baku yang berasal dari air tanah dipompa ke tangki
pencampur (static mixer) sambil diinjeksi dengan larutan soda ash (NaHCO3)
atau larutan kapur yang berfungsi menaikkan pH menjadi sekitar 7-8 lalu
dimasukkan lagi larutan tawas dan dialirkan ke bak pengendap untuk mengoksidasi
dan mengendapkan zat besi dan mangan. Selanjutnya air dialirkan ke tangki  reaktor (tangki bertekanan) seraya diinjeksi
dengan larutan kalium permanganat agar menyempurnakan proses oksidasi dari besi
atau mangan . Lalu air dialirkan ke saringan pasir halus, setelah itu ke filter
manga zeolit, selanjutnya dialirkan lagi ke filter karbon aktif untuk
menghilangkan bau, warna serta polutan mikro, lalu dialirkan kembali ke filter
cartride yang dapat menyaring kotoran sampai dengan 5 mikron, setelah itu air
dapat didistribusikan. Kapasitas alat ini dapat berkiran 60-100 m3/hari.
Pengolahan air dengan cara ini telah dicontohkan di dua tempat dan dari
hasilnya terbukti dapat menghasilkan air gambut menjadi layak di gunakan, hasil
analisa kualitas air hasil olahan TP2AS sebagai berikut :

Tabel 3. Hasi Analisa Kualitas
Air Baku Dan Air Olahan Dari Alat TP2ASSebelumnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari hasil di atas terlihat bahwa alat TP2AS ini terbukti
dapat mengolah air gambut menjadi air yang layak sesuai baku mutu dari
Peraturan Pemerintah RI No.82 tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air. Alat TP2AS ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi
penyediaan air bersih untuk warga Dusun pulo gombut Desa suka rame baru Kabupaten
labuhan batu utara, Sumatera Utara.

B. Pengolahan Lahan Rawa Gambut

Desa pulo gombut merupakan desa yang terletak di
kabupaten labuhan batu utara, Provinsi Sumatera utara. Pada daerah ini sebagian
besar lahannya merupakan lahan gambut. Lahan rawa gambut memiliki kandungan zat
organik tinggi, sehingga daya dukungnya rendah. Untuk meningkatkan daya dukung lahan
rawa gambut dapat dilakukan dengan penambahan zat amelioran. Ameliorasi dilakukan menggunakan abu (tanpa takaran), pupuk kandang 4 ton/ha yang diberikan pada awal penyiapanlahan. Ameliorasi tersebut dilanjutkan dengan pemupukan dengan
N:P:K (2:2:1)6,5 kuintal/ha. Agar pupuk yang diberikan efektif,
pemupukan dilakukan secara bertahap, selama satu rotasi pemupukan dilakukan 4 – 5 kali sesuai dengan jenis komoditas
yang diusahakan.

Tabel 4. Korelasiantaraameliorasiterhadapperubahansifattanah

Tabel 1 menunjukkan bahwa penambahan ameliorant telah meningkatkan kandungan
C organik

tanah. Peningkatan C organic tanah ini memberikan pengaruh positif terhadap semua sifat kimia tanah,yaitu meningkatnya
pH, KTK, KB serta ketersediaan N, P dan K dalam tanah. Perbaikan
pH tanah dapat meningkatkan
KB, KTK, ketersediaan N, P dan K tanah. Meningkatnya KTK
memberikan pengaruh positif terhadap KB (atausebaliknya), meningkatkan ketersediaan
N, P dan K dan terjadi saling mempengaruhi ketikaterja dipeningkatan ketersediaan unsure hara makro (Tabel 1).

 

Tabel 5. Korelasiantaraperubahansifattanahterhadappopulasimikrobatanah

Mikroba tanah dapat berfungsi sebagai penyedia unsurhara di dalam tanah diantaranya adalah kelompok penyedia unsure hara N
dan pelarut P
(phosphorus solubilizing organism).Hara N tersedi amelimpah
di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara mengandung unsur
N.Namun unsur N
ini tidak dapat langsung dimanfaatkan oleh tanaman. N harus ditambat oleh mikrobadan diubah bentuknya menjadi tersedia bagitanaman. Mikroba penambat
N ada yang bersimbiosis, ada juga yang hidupbebas. Mikroba penambat
N simbiotik antara lain adalah Rhizobium sp yang
hidup di dalam bintil akar kacang kacangan. Mikroba penambat N non-simbiotik diantaranya Azotobacterbeijerienckii,
Azospirillumlepoperum, Azospirillumbrasilense. Sedangkan kelompok mikrobapelarut
P adalah Aspergillusniger(fungi), Bacillus megatenum(bakteri),
Loliummultiflorum, Bacillus cereus (bakteri), Pseudomonasdiminuta(bakteri)
danPenicillium sp. (fungi) (Prihatini,1990; Izroi, 2004).

            Peningkatan
pH pada perlakuan ini terjadi karena adanya reaksi buffering (penyanggaan) akibat penambahan pupuk kandang dan abu.Pupuk kandang akan terdekomposisi dan selanjutnya akan mengalam imineralisasi dengan salah satu hasilnya adalah
(CO ).  Menurut Bohn et al. (1985)
dan Stevenson (1994) pada kondisi anaerob (tergenang) maka CO  akan berperan sebagai buffer sehingga dapat meningkatkan
pH tanah.  Di sampan gitu,
meningkatnya pH terjadi karena adanya proses kesetimbangan muatan.  Bahan organik,
menurut Bohn et al. (1985), merupakan gugus bermuatan negative sehingga akan mengikat
ion H  yang menjadi sumber rendahnya pH.

 

3.
KESIMPULAN

            Air
daerah rawa gambut di Dusun pulo gombut Desa suka rame baru Kabupaten labuhan
batu utara, Sumatera Utara memiliki nilai parameter seperti tingkat kekeruhan,
intensitas warna, pH, Mn, dan BOD yang tidak sesuai dengan baku mutu yang ada.
Maka dapat dilakukan pengolahan dengan alat TP2AS  melalui 
kombinasi proses pengaturan pH, proses koagulasi-flokulasi dengan
menggunakan larutan tawas atau PAC, serta pembubuhan kalium permanganat dan
dilanjutkan dengan proses filtrasi dengan saringan pasir, kemudian penyaringan
dengan filter mangan zeolit (manganese
greensand) dan penyaringan media karbon aktif, yang dimana terbukt dapat
menjadikan tingkat kekeruhan, intensitas warna, pH, Mn menjadi sesuai dengan
baku mutu yang ada sehingga air gambut layak dan dapat digunakan bagi
masyarakat. Lahan rawa gambut yang kurang subur dapat dilakukan penanganan
dengan menambahkan zat amelioran misalnya yang terdapat pada abu (tanpatakaran), pupukkandang dan pupuk NPK, penggunaan zat –zat ini
dapat meningkatkan pH lahan gambut yang asam serta meningkatkan kesuburan
lahan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Herlambang , Arie., dan Nusa Idaman Said. (2005). Aplikasi Teknologi Pengolahan Air Sederhana
Untuk Masyarakat Pedesaan. BPPT. JAI
vol (1)No.2.

Peraturan Pemerintah RI No.82 tahun 2001 Tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air

Suhendra, Dipo Satyo, dkk. 2012. Analisis Kualitas Air Gambut dan Keluhan Kesehatan Pada Masyarakat Di
Dusun  Pulo Gombut Desa Suka Rame Baru
Kabupaten Labuhan Batu Utara Tahun 2012. Universitas Sumatera Utara

Widyati, Enny., dkk. 2010. Ameliorasi Lahan Gambut Melalui Kegiatan Agroforestry. Jurnal Tekno
Hutan Tanaman. Vol 3. No.3 

BACK TO TOP
x

Hi!
I'm Rhonda!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out