Dalam makhluk lainnya. Akhlak salah satu sistem nilai yang

Dalam pembuatan skripsi ini, penulis mencoba
menggali informasi dari buku-buku maupun skripsi sebagai bahan pertimbangan
untuk membandingkan masalah-masalah yang diteliti baik dalam segi teori maupun
objek penelitian.

1.      Buku
karya Dr. Mansur M.A., yang berjudul Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam,
penerbit Pustaka Pelajar tahun 2005, yang berisi pentingnya memberikan
pendidikan kepada anak sejak dini, terutama dalam memberikan pendidikan agama
Islam yaitu dengan penanaman nilai nilai agama dan akhlak sejak dini. Hubungan
kajian pustaka tersebut dengan penelitian ini adalah sebagai acuan dan
referensi.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

2.      Skripsi
yang ditulis Khairul Fahmi, mahasiswa UII Yogyakarta pada tahun 2012 yang
berjudul Perbedaan Tingkat Kematangan Moral Mahasiswa Lulusan Pondok Pesantren
dengan Lulusan Non Pondok Pesantren dalam Berprilaku di FIAI UII Yogyakarta.
Secara umum perbedaannya sudah dapat dibuktikan dengan teori-teori yang ada,
sehingga penulis dapat mengetaui perbedaan tingkat kematangan moral mahasiswa
lulusan pondok pesantren dengan lulusan non pondok pesantren dalam berprilaku.

Sementara skripsi yang akan penulis
kerjakan adalah membahas tentang Perbedaan Akhlak Siswa Lulusan Madrasah
Ibtidaiyah dengan Sekolah Dasar dalam Berprilaku di Kelas 1 MTs Sunan
Pandanaran Yogyakarta, sehingga terdapat perbedaan dengan peneliti di atas.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1
Kajian Teori

Menurut Imam Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya Ulum al
din mengatakan bahwa akhlak ialah; sifat yang tertanam dalam jiwa yang
menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan
pemikiran dan pertimbangan.1

Dari
pakar  dalam  bidang 
akhlak  tersebut,  menyatakan 
bahwa akhlak  adalah  perangai yang 
melekat  pada  diri 
seseorang  yang  dapat memunculkan  perbuatan 
baik  tanpa  mempertimbangkan  pikiran terlebih dahulu.  Tingkah 
laku  itu  dilakukan 
secara  berulang-ulang  tidak 
cukup hanya  sekali  melakukan 
perbuatan  baik  atau 
hanya  sewaktu-waktu  saja.

Maka seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul
dengan sendirinya, didorong  oleh  motivasi 
dari  dalam  diri 
dan  dilakukan  tanpa 
banyak pertimbangan pemikiran, apalagi pertimbangan yang sering
diulang-ulang, sehingga  terkesan sebagai  keterpaksaan 
untuk  berbuat.  Apabila 
perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari
akhlak.2
Pada dasarnya, maksud dari akhlak yaitu mengajarkan bagaimana   seseorang  
seharusnya   berhubungan   dengan  
Tuhan   Allah Penciptanya,  sekaligus 
bagaimana  seseorang  harus 
berhubungan  dengan sesama
manusia. Inti dari ajaran akhlak adalah niat kuat untuk berbuat atau tidak
berbuat sesuatu sesuai dengan ridha Allah SWT.3

Berdasarkan  
pengertian   akhlak   diatas,  
penulis   berpendapat bahwa ada
beberapa ciri dalam perbuatan akhlak Islami, yaitu :

a.
Perbuatan   yang   yang  
tertanam   kuat   dalam  
jiwa   yang   menjadi kepribadian seseorang.

b. Perbuatan yang
dilakukan  tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan.

c. Perbuatan  itu 
merupakan  kehendak sendiri
yang  dibiasakan tanpa ada paksaan.

d. Perbuatan itu
berdasarkan petunjuk al-Qur’an dan al-Hadits.

e.
Perbuatan itu untuk berperilaku  terhadap
Allah, manusia, diri sendiri, dan makhluk lainnya.

Akhlak salah satu sistem  nilai 
yang mengatur  pola  sikap 
dan  tindakan  manusia 
di  muka  bumi. Sistem 
nilai  yang  dimaksud 
adalah  ajaran  Islam, 
dengan  al-Qur’an  dan 
Sunnah  Rasul  sebagai 
sumber  nilainya  serta ijtihad sebagai metode berfikir Islami.
Pola sikap dan tindakan yang 
dimaksud  mencakup  pola-pola 
hubungan  dengan  Allah, sesama manusia (termasuk dirinya
sendiri), dan dengan alam.

Adapun
pembagian akhlak berdasarkan sifatnya ada dua, yaitu:

a.      
Akhlak Mahmudah  (akhlak 
terpuji) atau  Akhlak  Karimah 
(akhlak mulia)

Yang 
dimaksud  dengan  akhlak 
terpuji  adalah  segala macam sikap  dan 
tingkah laku yang  baik (terpuji).
Akhlak ini dilahirkan oleh sifat-sifat mahmudah yang terpendam dalam jiwa
manusia.4

Akhlak  yang
terpuji  berarti  sifat-sifat 
atau  tingkah  laku 
yang sesuai  dengan  norma-norma 
atau  ajaran  Islam. 
Adapun  akhlak  yang terpuji sebagai berikut :

1.     
Taubat 
adalah  suatu  sikap 
yang  menyesali  perbuatan 
buruk  yang pernah  dilakukannya 
dan  berusaha  menjauhinya 
serta  melakukan perbuatan baik.
Sifat ini dikategorikan sebagai taat lahir dilihat dari sikap    dan   
tingkah    laku    seseorang,    namun   
penyesalannya merupakan taat batin. Bertaubat merupakan tahapan pertama
dalam perjalanan   menuju   Allah.  
Taubat   adalah   kata  
yang   mudah diucapkan,    karena   
mudah    dan    terbiasa,   
inti    makna    yang dikandungnya    menjadi   
tidak    nampak,    padahal   
kandungan maknanya tidak akan dapat direalisasikan hanya dengan
perkataan lisan dan kebiasaan menyebutkannya.5

2.     
Amar 
Ma’ruf  Nahi  Munkar, 
yaitu  perbuatan  yang 
dilakukan kepada  manusia  untuk 
menjalankan  kebaikan  dan 
meninggalkan kemaksiatan  
dan   kemungkaran   sebagai  
implementasi   perintah Allah.

3.     
Syukur yaitu  berterimakasih  kepada 
Allah  tanpa  batas 
dengan sungguh-sungguh atas segala nikmat dan karunianya dengan ikhlas
serta   mentaati   apa  
yang   diperintahkanNya. Ada   juga  
yang menjelaskan  bahwa  syukur 
merupakan  suatu  sikap 
yang  selalu ingin  memanfaatkan 
dengan  sebaik-baiknya  nikmat 
yang  telah diberikan  oleh 
Allah  SWT  kepadanya, 
baik  yang  bersifat 
fisik maupun non fisik, lalu disertai dengan peningkatan pendekatan diri
kepada Allah SWT.6

b.     
Akhlak Mazhmumah (akhlak tercela) atau
Akhlak Sayyi’ah (akhlak yang jelek)

Menurut 
Imam  al-Ghazali,  akhlak 
yang  tercela  ini 
dikenal dengan  sifat-sifat
muhlikat, yakni  segala  tingkah 
laku  manusia yang dapat
membawanya kepada kebinasaan dan kehancuran diri yang tentu saja bertentangan  dengan 
fitrahnya  untuk  selalu 
mengarah  kepada kebaikan.

Al-Ghazali  
menerangkan   akal   yang  
mendorong   manusia melakukan
perbuatan tercela (maksiat), diantaranya :

1.     
Dunia dan  isinya, 
yaitu  berbagai  hal 
yang  bersifat  material 
(harta dan kedudukan) yang ingin dimiliki manusia sebagai kebutuhan
dalam melangsungkan hidupnya agar bahagia.

2.     
Manusia. Selain mendatangkan  kebaikan, manusia dapat mengakibatkan  keburukan, seperti istri, anak, karena  kecintaan kepada  mereka 
misalnya,  sampai  bisa 
melalaikan  manusia  dari kewajibannya kepada Allah SWT dan
terhadap sesama.

3.     
Setan 
(iblis).  Setan  adalah 
musuh  manusia  yang 
paling  nyata,  ia menggoda  
manusia   melalui   batinnya  
untuk   berbuat   jahat  
dan menjauhi Tuhan.

4.     
Nafsu. 
Nafsu  adakalanya  baik 
(muthmainnah),  dan  adakalanya buruk  (amarah), 
akan  tetapi  nafsu 
cenderung  mengarah  kepada keburukan.7

Dari pembahasan di atas sudah jelas bahwa akhlak
terpuji harus ditanamkan kepada siswa. Agar siswa memiliki akhlak yang terpuji
dan menjauhi akhlak yang tercela. Setiap sekolah berperan untuk mendidik
siswanya kepada prilaku baik.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
No. 66 Tahun 2010, sekolah dasar adalah salah satu pendidikan formal yang
menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar. Suharjo (2006)
menyatakan bahwa sekolah dasar pada dasarnya merupakan lembaga pendidikan yang
menyelenggarakan program pendidikan enam tahun bagi anak-anak usia 6-12 tahun.
Hal ini juga diungkapkan Fuad Ihsan (2008) bahwa sekolah dasar ditempuh selama
6 tahun. Sekolah memainkan peran yang sangat penting sebagai dasar pembentukan
sumber daya manusia yang bermutu. Melalui sekolah, anak belajar untuk
mengetahui dan membangun keahlian serta membangun karakteristik mereka sebagai
bekal menuju kedewasaan. Namun dalam satu minggu mata pelajaran pendidikan
agama hanya berlangsung satu pertemuan. Sedangkan Madrasah Ibtidaiyah lebih
mengkhususkan diri   pada   pelajaran-pelajaran   agama, lebih dikembangkan lagi. Dalam hal
tersebut apakah setelah lulus nanti siswa lulusan SD dengan MI memiliki
perbedaan akhlak. Baik itu akhlak yang berprilaku terpuji atau tercela.

2.2
Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan, maka
hipotesis yang akan di uji dalam penelitian ini adalah Null Hypothesis (Ho) dan
Alternative Hypothesis (Hi). Seperti di bawah ini:

Ho : Tidak adanya perbedaan akhlak siswa lulusan Madrasah
Ibtidaiyah dengan lulusan Sekolah Dasar dalam berprilaku di kelas 1 MTs Sunan
Pandanaran Yogyakarta.

Hi : Ada perbedaan akhlak siswa lulusan Madrasah
Ibtidaiyah dengan lulusan Sekolah Dasar dalam berprilaku di kelas 1 MTs Sunan
Pandanaran Yogyakarta.

 

 

 

 

1
Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz III (Mesir : Isa Bab al-Halaby, tt.) h.
53

2  Tim 
Penyusun  MKD  IAIN 
Sunan  Ampel, Pengantar  Studi 
Islam, (Surabaya  :  IAIN Sunan Ampel Press, 2011), h. 65

3  Tim 
Penyusun  MKD  IAIN 
Sunan  Ampel, Akhlak  Tasawuf (Surabaya  : 
IAIN  Sunan Ampel Press, 2011),
h.107

4
A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, h.197-198.

5
Noer Hidayatullah, Insan  Kamil  ; 
Metode  Islam  Memanusiakan 
Manusia, (Bekasi  : Intimedia dan
Nalar, 2002), h. 34.

6
Ahmad  Umar  Hasyim, Menjadi  Muslim 
Kaffah  Berdasarkan  al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, (Yogyakarta: Mitra
Pustaka, 2004), h. 369.

7
Asmaran As, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1994),
h.131-140.

 

BACK TO TOP
x

Hi!
I'm Rhonda!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out